Bantahan Ilmiah Atas Opini Narasi Riya Donasi, Yusman Dawolo : Menyesatkan Masyarakat.!

GUNUNGSITOLI – Tulisan berjudul “RIYA Donasi : Indah di Layar Media, Bahaya di Mentalitas” Pada dasarnya mencoba membangun opini bahwa publikasi bantuan sosial identik dengan riya, pencitraan, serta merusak mentalitas masyarakat.

“Namun jika dianalisis secara ilmiah, sosiologis, psikologis, dan ekonomi pembangunan, narasi tersebut terlalu simplistik, subjektif, dan Diduga berpotensi menyesatkan cara masyarakat memahami makna kepedulian sosial di era modern kini”, Ucap Pengamat Ekonomi (Dr. HC. Yusman Dawolo, M.Kom.I) Kepada wartawan. Kamis (7/5/2026)

Menurutnya, Tidak Semua Bantuan yang Dipublikasikan Adalah Riya. Pasalnya, Dalam psikologi sosial modern, motivasi manusia tidak pernah tunggal.

Penelitian dari Harvard Business School dan Stanford Social Innovation Review menunjukkan bahwa publikasi kegiatan sosial sering memiliki efek “social contagion” atau penularan perilaku baik. Ketika satu tindakan kebaikan terlihat publik, orang lain terdorong melakukan hal serupa. Artinya, Publikasi bantuan tidak otomatis bermakna kesombongan.

Dalam teori Prosocial Behavior dijelaskan bahwa manusia sering membantu karena kombinasi, antara peduli, empati, tanggung jawab sosial, inspirasi publik, dan kebutuhan membangun gerakan sosial.

Jika setiap bantuan yang dipublikasikan langsung dicap riya, Maka logika yang sama juga harus diterapkan kepada BLT, PKH, Bagi-bagi sembako pemerintah, partai, program CSR perusahaan, dokumentasi bantuan pemerintah, kegiatan bakti sosial lembaga agama, bahkan publikasi bantuan bencana nasional.

“Padahal publikasi sering diperlukan untuk transparansi, akuntabilitas, membangun kepercayaan publik, serta menggerakkan partisipasi sosial yang lebih luas”, Ucapnya

BACA JUGA :  Dies Natalis ke-72, Prof Muryanto Amin: USU Siapkan Lulusan Unggul dan Adaptif

“Maka menuduh motif hati seseorang secara sepihak justru bertentangan dengan prinsip objektivitas dan etika intelektual”, Tambah Yusman

Membantu Masyarakat Tidak Bertentangan dengan Pemberdayaan.

Yusman Dawolo atau Sapaan akrab Bang YD menyampaikan bahwa Narasi dalam tulisan tersebut diduga membangun dikotomi seolah-olah hanya ada dua pilihan, membantu sama dengan memanjakan, atau memberdayakan sama dengan solusi sejati. Padahal dalam teori pembangunan modern, keduanya bukan lawan, melainkan saling melengkapi.

Ekonom peraih Nobel, Menjelaskan dalam Capability Approach bahwa masyarakat tidak mungkin mencapai kemandirian jika kebutuhan dasar mereka belum terpenuhi.

Orang lapar sulit berpikir inovatif. Orang yang anaknya putus sekolah sulit bicara tentang masa depan. Orang yang tidak punya biaya berobat sulit bicara produktivitas.

Karena itu bantuan sosial bukan musuh pembangunan. Bantuan sosial sering menjadi jembatan awal bagi orang kurang mampu menuju pemberdayaan.

Dalam banyak negara maju sekalipun, lanjut Bang YD, Ada subsidi pendidikan, bantuan pangan, beasiswa, jaminan kesehatan, dan perlindungan sosial. Apakah itu berarti negara-negara tersebut sedang “melumpuhkan mentalitas rakyatnya”?.

Tentu tidak. Yang salah bukan membantu. Yang salah adalah jika bantuan dibuat permanen tanpa arah pemberdayaan.

Disaat bersamaan Bang YD telah melakukan dua hal bersamaan, memberi sembako dan memberi modal usaha juga training UMKM untuk pemberdayaan.

Teori Ekonomi Justru Mengakui Pentingnya Stimulus Sosial.

Dalam ekonomi makro modern, Bantuan langsung kepada masyarakat berpenghasilan rendah justru terbukti meningkatkan daya beli dan perputaran ekonomi lokal.

BACA JUGA :  Klaim Pembukaan Lapangan Kerja Harus Diukur dari Realitas, Bang YD : Bukan Sekedar Data Administratif.

Teori Multiplier Effect menjelaskan bahwa uang yang diberikan kepada masyarakat kecil biasanya langsung berputar kembali ke pasar, baik untuk membeli beras, kebutuhan sekolah anak, obat, atau kebutuhan harian.

Artinya bantuan bukan sekadar “ikan habis sekali makan”, tetapi dapat menjadi stimulus ekonomi mikro, terutama di daerah dengan tingkat kemiskinan dan daya beli rendah.

“Maka terlalu dangkal jika seluruh bantuan dianggap sekadar pencitraan tanpa memahami konteks sosial ekonomi masyarakat bawah”, Pungkas Bang YD.

Menuduh Publikasi Bantuan sebagai Eksploitasi Juga Tidak Selalu Benar.

Untuk diketahui bahwa dalam era digital, Dokumentasi kegiatan sosial adalah bagian dari komunikasi publik.

Bang YD memberitahu Bahkan lembaga internasional seperti UNICEF, World Food Programme, dan Palang Merah Indonesia secara rutin mempublikasikan kegiatan bantuan mereka.

Tujuannya untuk membangun kepercayaan, mengedukasi publik, menggerakkan solidaritas, dan memastikan bantuan benar-benar tersalurkan.

“Jadi, Menyimpulkan seluruh dokumentasi bantuan sebagai “eksploitasi” adalah generalisasi berlebihan”, Tegasnya

Kritik Tidak Boleh Berubah Menjadi Penghakiman Moral.

Yusman menilai bahwa tulisan tersebut berulang kali menggunakan istilah : riya, pencitraan, motif tersembunyi, atau kemurahan hati semu.

Secara etis, ini problematik. Dalam filsafat moral dan etika publik, seseorang tidak bisa menghakimi isi hati orang lain tanpa bukti objektif. Bahkan dalam tradisi keagamaan sekalipun, riya adalah persoalan niat batin yang hanya diketahui Tuhan.

BACA JUGA :  Prihatin Nasib Pekerja Outsourching Gunungsitoli, Bang YD : Mereka Pejuang Nafkah Keluarga. 

“Karena itu kritik yang sehat seharusnya fokus pada efektivitas program, dampak sosial, keberlanjutan bantuan, dan model pemberdayaan. Bukan menyerang motif pribadi secara spekulatif. Saat kritik berubah menjadi penghakiman niat, maka diskusi publik kehilangan kedewasaan intelektualnya”, Ujarnya

Kepedulian Sosial dan Pemberdayaan Seharusnya Berjalan Bersama.

Masyarakat tidak membutuhkan pertentangan antara bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, maupun gerakan kemanusiaan, Karena yang dibutuhkan adalah keseimbangan.

Membantu orang lapar hari ini adalah kemanusiaan. Mengajari mereka mandiri untuk masa depan adalah pembangunan.

Keduanya bukan musuh. Keduanya justru harus berjalan berdampingan. Tokoh besar dunia seperti memulai perubahan sosial bukan hanya dengan teori pemberdayaan, tetapi juga dengan keberanian membantu masyarakat kecil secara nyata terlebih dahulu.

Agar diketahui, Masyarakat dewasa seharusnya berhati-hati agar tidak terjebak pada sinisme berlebihan terhadap setiap tindakan sosial yang terlihat di ruang publik.

Tidak semua yang dipublikasikan adalah riya. Tidak semua bantuan melahirkan ketergantungan. Dan tidak semua kritik mencerminkan kebijaksanaan.

Peradaban besar dibangun bukan oleh mereka yang sibuk mencurigai setiap kebaikan, melainkan oleh mereka yang mampu membantu dengan tulus, memberdayakan dengan cerdas, dan mengkritik dengan adil serta bermartabat.

“Karena pada akhirnya, masyarakat lebih membutuhkan solusi nyata dan budaya saling peduli daripada pertarungan narasi yang saling merendahkan”, Tutup Bang YD