Praktisi Enterpreneur Nilai Gagasan Sebagai Titik Awal Perubahan Besar & Cermin Kepedulian.

KEPULAUAN NIAS – Praktisi Entrepreneur sekaligus Pengamat Ekonomi (Dr. HC. Yusman Dawolo, M.Kom.I) yang sudah memiliki banyak sertifikasi dalam berbagai ilmu bidang ekonomi dan bisnis, Serta telah berpengalaman selama 17 tahun mengelola usaha diberbagai bidang, dan saat ini memiliki lebih dari 600 karyawan di perusahaannya, menilai bahwa pada hakikatnya setiap perubahan besar selalu berangkat dari gagasan.

Yusman Dawolo atau dengan sapaan akrab Bang YD menerangkan yakni Gagasan dapat mencerminkan kepedulian dan proses berpikir yang aktif, serta keberanian untuk mencari solusi atas persoalan yang ada. Rabu (6/5/2026)

“Sebaliknya, Ketiadaan gagasan sering kali menjadi indikator stagnasi, baik karena keterbatasan kapasitas keilmuan, pengalaman dan ketrampilan. Hal itu dipicu karena rendahnya kepedulian, ataupun keengganan untuk berpikir secara lebih mendalam”, Ucapnya

Untuk diketahui, Dalam berbagai forum diskusi dan perumusan kebijakan, fenomena yang kerap muncul adalah kecenderungan sebagian pihak untuk bersikap pasif dengan mengikuti arus tanpa menawarkan alternatif pemikiran.

Dalam konteks minimnya lapangan pekerjaan, Pertanyaan paling mendasar seharusnya sederhana namun krusial. Pertanyaan kita, Apa gagasan konkret yang ditawarkan untuk menyelesaikan masalah sedikitnya lapangan pekerjaan.?.

Mental Block dan Budaya Alasan dalam Pembangunan

Bang YD menuturkan salah satu hambatan utama dalam mendorong kemajuan adalah munculnya mental block yaitu kondisi ketika individu atau institusi lebih fokus pada pembenaran atas keterbatasan daripada pencarian solusi.

Berbagai tantangan seperti adanya keterbatasan infrastruktur, Tingginya biaya logistik dan ketergantungan pada transfer fiskal pusat yang memang merupakan realitas objektif yang tidak dapat diabaikan.

BACA JUGA :  Tambang Emas Martabe Konsisten Patuhi Baku Mutu Air Sisa

Namun dalam perspektif ilmiah, Khususnya dalam studi pembangunan ekonomi, Kondisi tersebut tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti berinovasi. Sebaliknya, Justru menjadi dasar untuk merumuskan strategi yang lebih adaptif, kontekstual, dan kreatif.

“Apabila pola pikir yang berkembang adalah terus-menerus membangun justifikasi atas keterbatasan, Maka konsekuensinya dapat diprediksi, pertumbuhan lapangan kerja akan stagnan, dan tingkat pengangguran berpotensi meningkat secara berkelanjutan.” Terang Bang YD

Benchmarking : Pendekatan Rasional Berbasis Praktik Terbaik

Dalam praktik ekonomi modern, lanjut Yusman, Benchmarking merupakan salah satu pendekatan yang terbukti efektif. Metode ini menekankan pentingnya belajar dari daerah atau sistem yang telah berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

Pernyataan untuk belajar dari kota-kota yang berhasil bukanlah retorika, Melainkan pendekatan berbasis Best Practices.

“Banyak daerah dengan kondisi awal yang serupa justru mampu melakukan akselerasi pembangunan karena mereka terbuka terhadap pembelajaran, adaptif terhadap inovasi, serta berani mengadopsi model kebijakan yang telah teruji”, Ujarnya

Bantahan terhadap Narasi : Indah di Kata, Jauh dari Fakta.

Narasi yang menyederhanakan gagasan sebagai (retorika) memiliki kelemahan mendasar, yaitu tidak membedah substansi, melainkan cenderung bergeser pada aspek personal.

1) Kekeliruan Logika : Kehadiran Fisik sebagai Ukuran Pemahaman.

Mengaitkan validitas gagasan dengan keberadaan fisik merupakan bentuk kekeliruan logika (logical fallacy), Khususnya argumentum ad hominem dan argument from location.

Dalam pendekatan ilmiah, Pemahaman tidak ditentukan oleh lokasi. Melainkan oleh kualitas data analisis, kedalaman riset, serta kemampuan melakukan komparasi lintas wilayah. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak dibatasi oleh jarak geografis, melainkan oleh kualitas argumentasi.

BACA JUGA :  Toke Ikan Dermawan Asal Brandan : Belanjakanlah Harta di Jalan Allah

Terlebih Bang YD punya banyak mata, punya banyak teman, banyak saudara yang masih tinggal di Gunungsitoli dan Kepulauan NIAS secara umumnya. Mereka merasakan, membaca dan melihat serta memberi informasi kondisi bagaimana susahnya mereka mendapatkan pekerjaan.

2) Labelisasi Tanpa Pembuktian Empiris.

Menyebut suatu gagasan sebagai retorika tanpa mengidentifikasi secara spesifik, berupa kesalahan data, kelemahan asumsi, atau ketidaktepatan model yang merupakan bentuk argumen yang tidak memenuhi standar diskursus ilmiah.

“Dalam debat yang sehat dan konstruktif, mestinya gagasan diuji dengan gagasan, Data ditanggapi dengan data, juga Strategi diverifikasi melalui pendekatan empiris maupun simulasi kebijakan. Tuliskan saja gagasanmu untuk terciptanya lapangan pekerjaan di Kota Gunungsitoli atau Kepulauan Nias” Pungkas Bang YD.

3) Keterbatasan sebagai Titik Masuk Inovasi.

Narasi keterbatasan sering kali digunakan sebagai dasar untuk menolak terobosan. Padahal dalam teori pembangunan, keterbatasan justru menjadi pemicu inovasi.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak kemajuan lahir dari kondisi yang tidak ideal. Oleh karena itu, Menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk menolak gagasan baru merupakan bentuk resistensi terhadap perubahan, bukan kehati-hatian yang konstruktif. Pemikiran seperti inilah yang menghambat kemajuan.

4) Peta Jalan Harus Diukur Berdasarkan Output.

BACA JUGA :  Apresiasi Pengiriman Pelatihan Tenaga Kerja, Yusman Dawolo Harap Pemkot Gunungsitoli Transparan.

Klaim mengenai keberadaan peta jalan yang matang, perlu diuji secara objektif melalui capaian nyata.

Pertanyaan adalah, Apakah indikator kesejahteraan masyarakat mengalami peningkatan?,. Kemiskinan yang terpampang didepan bata berkurang?, Apakah penciptaan lapangan kerja menunjukkan tren yang signifikan?.

“Tanpa ukuran kinerja yang jelas, peta jalan berisiko menjadi sekadar dokumen administratif, Bukan instrumen transformasi yang berdampak”, Kata Bang YD

5) Perbedaan Paradigma : Status Quo vs Transformasi.

Perdebatan ini pada dasarnya mencerminkan dua paradigma dalam pembangunan :

Pertama. Pendekatan birokratis, yang cenderung berhati-hati, gradual, dan defensif.

Kedua. Pendekatan transformasional, lebih bersifat progresif, akseleratif, dan berbasis peluang.

“Kedua poin itu memiliki relevansi dalam konteks tertentu. Namun, Penolakan terhadap gagasan besar hanya karena dianggap sulit, menunjukkan kecenderungan mempertahankan status quo, Bukan upaya perbaikan yang progresif”, Ungkap Yusman

Bang YD menyimpulkan bahwa membuka lapangan kerja tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi masalah dan mengulang atau memperbanyak alasan. Hal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berpikir melampaui kebiasaan, keterbukaan terhadap pembelajaran, serta ketegasan dalam mengambil dan mengeksekusi keputusan demi kepentingan rakyat banyak.

“Hambatan terbesar dalam pembangunan atau menciptakan lapangan kerja, bukan semata keterbatasan sumber daya, melainkan keterbatasan cara berpikir. Gagasan mungkin tidak selalu sempurna, Namun tanpa gagasan perubahan tidak akan pernah dimulai dan solusi yang nyata dalam menciptakan lapangan pekerjaan tidak akan pernah terwujud”, Tutup Bang YD