MEDAN – Piala Dunia 2026 memasuki fase paling menentukan. Empat kekuatan sepak bola dunia, Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina, berhasil mengamankan tiket semifinal setelah melewati ujian berat di babak gugur. Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang pantas berada di empat besar, melainkan siapa yang paling dekat mengangkat trofi di New York pada 20 Juli mendatang.
Prancis menjadi tim yang paling konsisten sepanjang turnamen. Les Bleus melangkah ke semifinal setelah menyingkirkan Maroko 2-0 di Boston. Tim asuhan Didier Deschamps tampil seimbang antara lini belakang dan lini depan dengan Kylian Mbappe tetap menjadi ancaman utama.
Prancis juga memiliki kedalaman skuad terbaik di antara tiga semifinalis lainnya sehingga mampu menjaga intensitas permainan selama 90 menit maupun ketika laga berjalan ketat.
Di atas kertas, Prancis saat ini menjadi favorit utama. Selain memiliki pengalaman tampil di dua final dalam dua edisi terakhir, mereka juga relatif tidak terlalu terkuras dibanding rival-rivalnya. Mental juara yang terbentuk sejak gelar 2018 dan finalis 2022 menjadi modal besar memasuki fase akhir turnamen.
Namun Spanyol datang sebagai tim dengan permainan paling modern dan paling dominan dalam penguasaan bola. La Roja melaju ke semifinal setelah mengalahkan Belgia 2-1 melalui gol penentu Mikel Merino pada menit-menit akhir. Dalam laga tersebut, Spanyol menguasai 68 persen penguasaan bola dan kembali menunjukkan efektivitas pressing tinggi yang menjadi ciri khas mereka sepanjang turnamen.
Kehadiran Lamine Yamal, Nico Williams, Pedri, Fabian Ruiz, Oyarzabal dan Merino membuat Spanyol memiliki kombinasi ideal antara kreativitas, kecepatan, dan energi muda. Kelemahan terbesar mereka adalah pengalaman.
Sebagian besar pemain inti belum pernah menghadapi tekanan sebesar semifinal Piala Dunia. Jika mampu mengatasi tekanan itu, Spanyol berpotensi menjadi tim paling sulit dihentikan.
Baca Juga: Duel Raksasa: Spanyol Vs Prancis, Rekor 2024-2025 Jadi Penentu
Di jalur lain, Inggris datang dengan kekuatan individu yang luar biasa. Jude Bellingham kembali menjadi penyelamat saat mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 atas Norwegia di Miami. Gelandang Real Madrid itu telah menjelma menjadi motor permainan sekaligus pemimpin baru The Three Lions.
Inggris memiliki skuad bertabur bintang dengan Harry Kane, Bukayo Saka, Gordon, Guehi, Rashford, dan Declan Rice. Namun konsistensi masih menjadi masalah utama. Pelatih Thomas Tuchel bahkan mengakui timnya belum tampil klinis meski berhasil lolos ke semifinal. Jika mampu menemukan ritme terbaiknya, Inggris memiliki kualitas untuk mengalahkan siapa pun.
Sementara itu, Argentina kembali menunjukkan karakter juara bertahan. Albiceleste menyingkirkan Swiss 3-1 setelah perpanjangan waktu dan sebelumnya harus melakukan comeback dramatis saat menghadapi Mesir. Tim asuhan Lionel Scaloni memang tidak selalu tampil dominan, tetapi memiliki kemampuan bertahan hidup dalam situasi sulit.
Lionel Messi tetap menjadi pusat permainan Argentina. Di usia 39 tahun, kapten Albiceleste itu masih mampu menentukan arah pertandingan lewat visi bermain dan kreativitasnya. Selain Messi, Argentina memiliki Julián Álvarez, Lautaro Martínez, Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, dan Cristian Romero yang membuat struktur tim tetap kuat di semua lini. Namun dua laga beruntun yang berlangsung hingga extra time bisa menjadi faktor yang menguras energi menjelang semifinal melawan Inggris.
Jika menilai berdasarkan performa sepanjang turnamen, Prancis sedikit berada di depan pesaingnya. Spanyol menjadi tim dengan permainan terbaik, Argentina memiliki mental juara terkuat, sedangkan Inggris memiliki talenta individu paling lengkap.
Menariknya, sejarah juga berbicara. Sejak Piala Dunia digelar di benua Amerika, hanya Jerman yang mampu menjadi juara di Amerika Selatan saat menaklukkan Argentina pada final Piala Dunia 2014 di Brasil. Kini, Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina berpeluang menorehkan sejarah baru sebagai penguasa Piala Dunia pertama di era 48 peserta.
Dengan semifinal mempertemukan Prancis versus Spanyol serta Argentina versus Inggris, publik sepak bola dunia akan menyaksikan pertarungan empat filosofi berbeda. Yang tersisa bukan hanya soal kualitas pemain, tetapi juga ketahanan mental, kecerdikan taktik, dan kemampuan bertahan di bawah tekanan terbesar. (RS)






