MEDAN — Koordinator Gerakan Masyarakat Pemuda Nusantara (GM PENA), Julius Fadli, menyampaikan pernyataan resmi terkait ambruknya tanggul Sungai Dalu Dalu di Desa Suka Raja, Kecamatan Air Putih.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus dipandang sebagai konsekuensi dari bencana hidrometeorologi ekstrem, bukan dijadikan dasar untuk menyudutkan pihak tertentu.
“Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini memiliki daya rusak di luar batas kewajaran. Fenomena serupa juga tercatat di berbagai daerah aliran sungai di Sumatera Utara. Oleh karena itu, penilaian sepihak tanpa kajian teknis komprehensif tidak dapat dibenarkan,” ujar Julius Fadli dalam keterangannya.
Tanggul yang baru beberapa bulan selesai dibangun tersebut mengalami kerusakan pada Sabtu (29/11/2025). Proyek ini dikerjakan pada periode kepemimpinan Zivo Madresty Hutabarat sebagai Kepala UPTD PUPR Tanjung Balai, sebelum yang bersangkutan dipindahkan ke jabatan baru.
Sejumlah pihak kemudian menyoroti proyek tersebut, namun para pemerhati pembangunan menekankan bahwa pekerjaan konstruksi pemerintah merupakan tanggung jawab kolektif institusi, bukan individu.
Julius Fadli turut menegaskan bahwa Zivo Madresty Hutabarat selama ini dikenal menjalankan tugas sesuai ketentuan administrasi dan teknis. “Proyek pemerintah merupakan hasil kerja sistem yang melibatkan perencana, pengawas, auditor, dan tim teknis. Mengaitkan kerusakan ini dengan satu orang sangat berpotensi menyesatkan opini publik,” tegasnya.
Pembangunan tanggul Sungai Dalu Dalu dilakukan sebagai upaya mengakhiri banjir yang telah mengakibatkan sekitar 14 ribu hektare lahan sawah tidak dapat digarap selama empat tahun terakhir. Kekuatan arus sungai yang meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, terutama dari hulu Simalungun, disebut menjadi penyebab utama tingginya tekanan hidrolik yang menyerang struktur tanggul.
Para ahli hidrologi menyebut fenomena “tendangan air” serta gerusan dasar sungai (scouring) sebagai faktor yang dapat merusak struktur beton sekalipun telah dibangun sesuai spesifikasi teknis.
Tekanan dari sisi bawah dan samping berpotensi mengikis tanah penopang sehingga memicu keruntuhan bangunan.
Dalam situasi ini, pemerintah daerah dilaporkan telah melakukan langkah darurat berupa penguatan titik rawan dan penyusunan strategi mitigasi jangka panjang. GM PENA mengapresiasi langkah tersebut dan meminta seluruh pihak tidak mengeluarkan penilaian prematur.
“Prioritas utama saat ini adalah memastikan penanganan darurat berjalan optimal. Kritik tentu diperlukan, namun harus berbasis data dan kajian. Penghakiman sosial terhadap individu atau pejabat tidak produktif dan dapat mengganggu stabilitas publik,” ujar Julius Fadli.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam menghadapi bencana. “Masyarakat, pemerintah, pemuda, dan tokoh lokal harus bersatu. Infrastruktur yang rusak dapat dibangun kembali, tetapi kepercayaan publik bisa hilang jika opini liar dibiarkan berkembang,” tambahnya.
GM PENA menyatakan siap mendorong kajian akademik lebih mendalam, termasuk analisis aliran sungai, rekonstruksi teknis, serta rekomendasi mitigasi permanen sebagai langkah perbaikan tata kelola sungai di Sumatera Utara. (Red)











