72,2 Persen Tumor Otak Usia Produktif, Dokter Ini Ungkap Gejala dan Cara Pencegahannya

MEDAN-Penderita tumor otak adalah ancaman nyata yang tidak mengenal usia dan dapat menyerang siapa saja.

Saat ini tumor otak tidak lagi identik dengan penyakit yang menyerang usia lanjut.

Data menunjukkan sekira 72,2 persen kasus tumor otak di Indonesia ditemukan pada kelompok usia produktif 18–59 tahun.

Dokter spesialis saraf di Columbia Asia Hospital Medan, dr. R.A. Dwi Pujiastuti, M.Ked(Neu), Sp.S(K) mengungkapkan agar masyarakat mengenali gejala-gejala dan cara pencegahannya.

Sebab beberapa fakta ini  menjadi peringatan pengingat bahwa gejala yang kerap dianggap sepele, seperti sakit kepala berkepanjangan, mual- mual, gangguan penglihatan, atau gangguan keseimbangan, dapat menjadi tanda adanya gangguan serius pada otak.

“Tanda- tanda itu bisa menjadi salah satu tanda awal gangguan serius pada otak, yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia,” kata Dwi dalam program kesehatan bulanan bersama wartawan, Senin (29/6/2026).

Alumni FK USU ini menyebutkan, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal masih menjadi tantangan besar dalam penanganan tumor otak.

Karena itu dia mengingatkan agar masyarakat jangan menunda konsultasi atau memeriksakan sejak dini
dan memerlukan evaluasi medis lebih lanjut karena mengira hanya sakit kepala biasa.

BACA JUGA :  Dugaan Aksi Mafia di Lelang Rumah/Gudang, Presidium GMPC Sumut Minta Kejatisu Periksa KPKNL!

Menurutnya, tidak semua sakit kepala menandakan tumor otak. Namun, keluhan yang berlangsung terus menerus, semakin memberat, atau disertai gangguan neurologis lainnya sebaiknya tidak diabaikan.

“Jangan takut berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan sejak dini merupakan langkah penting agar penyakit dapat diagnosis dan ditangani lebih cepat dan akurat sehingga dapat meningkatkan peluang kebehasilan terapi,” paparnya.

Dijelaskannya, tumor otak dapat bersifat jinak maupun ganas dan dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia.

Berbeda dengan penyakit degeneratif yang umumnya dialami lansia, kasus tumor otak justru banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

Gejala yang muncul, katanya sangat bergantung pada lokasi pertumbuhan tumor karena setiap bagian otak memiliki fungsi yang berbeda. Namun, keluhan yang paling sering ditemukan adalah sakit kepala dan kejang.

Selain itu, pasien juga dapat mengalami perubahan perilaku, gangguan kepribadian, hingga kelemahan anggota gerak yang berpotensi menyebabkan kelumpuhan apabila tumor menekan area tertentu di otak.

BACA JUGA :  Meriah, Zulkarnaen Gelar Berbagai Lomba Semarakkan Peringatan HUT RI Ke 80

Dwi juga memaparkan, riwayat genetik atau keturunan bisa menjadi faktor  memengaruhi risiko seseorang mengalami tumor otak.

“Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa mempunyai potensi genetik yang dapat berkembang, meskipun tidak selalu aktif,” ujarnya.

Di samping faktor genetik, gaya hidup juga berkontribusi terhadap kerusakan sel tubuh. Paparan radikal bebas dan toksin berlebih, seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, makanan tinggi bahan pengawet.

Demikian juga mengkonsumsi ikan asin secara berlebihan, kata Dwi bisa  meningkatkan risiko gangguan pada sel.

Untuk memastikan diagnosis terhadap penyakit tumor ini,  pasien harus menjalani serangkaian pemeriksaan, termasuk pengambilan sampel jaringan tumor (biopsi).

Hasil pemeriksaan tersebut akan menentukan apakah tumor bersifat jinak atau ganas, sehingga dokter dapat menentukan terapi yang paling tepat.

Penanganannya bisa berupa operasi, radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi dari beberapa metode, tergantung jenis dan kondisi tumornya.

CEO Columbia Asia Hospital Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, menilai akses terhadap layanan neurologi yang cepat dan tepat menjadi kebutuhan penting karena banyak gangguan saraf berkembang tanpa gejala yang spesifik pada tahap awal.

BACA JUGA :  Omset Puluhan Juta Perhari, Markas Judi Tembak Ikan di Komplek Marelan Point Tak Tersentuh

“Semakin cepat pasien mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis yang tepat, semakin besar peluang untuk memperoleh penanganan yang optimal. Karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda awal gangguan saraf menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” ujarnya

Dia berharap masyarakat tidak melakukan diagnosis mandiri maupun menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala neurologis yang menetap atau semakin memberat.

Konsultasi dengan dokter sejak dini dapat membantu mendeteksi gangguan lebih cepat dan meningkatkan peluang keberhasilan penanganan, terutama pada usia produktif yang memiliki aktivitas dan mobilitas tinggi.

Seperti diketahui, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker otak menyumbang sekitar 1,5 persen dari total kasus kanker di Indonesia.

Sementara itu, prevalensi tumor otak diperkirakan mencapai 8 hingga 10 kasus per 100.000 penduduk dan menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, banyak pasien baru mendapatkan diagnosis setelah penyakit berkembang ke tahap yang lebih lanjut akibat keterlambatan pemeriksaan. (sr)