Cerita Pedagang Kecil Meraup Rezeki, Dari Kampanye Akbar AMIN di JIS

JAKARTA
Momentum Kumpul Akbar Ber1 Berani Berubah AMIN di Jakarta Internasional Stadion (JIS) membawa dampak positif perputaran ekonomi pedagang kecil.

Salah satu perdagangan yang merasakan manfaat tersebut yakni Fadillah Muhammad. Pria berkaca mata tersebut mengaku, kegiatan Kumpul Akbar Ber1 Berani Berubah membawa manfaat besar bagi perputaran ekonomi pedagang kecil.

Fadillah berasal Kwitang, Jakarta. Ia sendiri berdagang tikar, kipas, hingga stiker. Ia mengatakan telah mendatangi JIS sejak Jumat siang (9/2).

BACA JUGA :  Durasi dan Frekuensi Gangguan Listrik Menurun, PLN Catat Kinerja Operasional Positif sepanjang 2024

“Euporianya lebih luar biasanya. Pedagang kecil seperti sayakan merasakan manfaatnya lebih besar, apalagi kalau AMIN jadi,” kata Fadillah saat ditemui di JIS, Sabtu (10/2).

Fadillah menyebut, sudah menjual 450 lembar tikar, 800 kipas hingga stiker 500 bungkus per bungkus berisi 4 lembar.

“Tikar ini alhamdulillah saya sudah habis 450 lembar. Kipasnya ada 800 kipas dan pin 500 bungkus. Harga jualan Tikar perlembar 10 ribu, kipas per lembar 10 ribu, juga sama harganya dengan 1 bungkus stiker isi empat lembar,” rincinya.

BACA JUGA :  600 Ribu Lebih Massa Padati GBK, Antusiasme Warga Bukti Visi Misi Prabowo - Gibran Semakin Diterima

Fadillah menyebut, menjual Tikar karena ia tahu bahwa massa akan sangat membutuh barang ini. Apalagi kata dia, pendukung AMIN datang dari berbagai wilayah Indonesia.

“Karenakan orang jauh dari luar kota, datang jauh-jauh hari pastikan datang menginap, salat, dan tidur di tempat sini. Kalau kipaskan kalau penuh orang, kegerahan sudah bisa kipas. Pin tandanya mendukung AMIN,” katanya.

BACA JUGA :  Akmal Samosir Dikukuhkan Jadi Ketua Relawan Ash Shaff : Siap Menangkan AMIN

Fadillah mengatakan kalau ia akan berjualan hingga siang, namun tak lupa tetap mengikuti Kumpul Akbar Ber1 Berani Berubah.

Ia juga menitipkan harapannya terhadap paslon AMIN di Pilpres 2024, ia mengatakan agar pedagang kecil bisa jauh lebih baik diperhatikan. Juga kata Fadillah, tidak ada lagi muncul diskriminasi terhadap ulama. (Kumparan)