Columbia Asia Hospital Medan Sinergi Multidisiplin Rawatan Pasien Gagal Ginjal Pasca Hemodialisis

MEDAN- Columbia Asia Hospital Medan berkolaborasi dengan Kemenkes dan Lembaga Pelatihan Kesehatan ( LPK) Prima Indonesia gelar seminar ilmiah Deteksi Dini Pada Hemodialysis Access Management di Hotel Four Points Medan, Sabtu (4/7/2026).

Kegiatan itu digelar sebagai bentuk ikut beradaptasi dan mengupgrade kompetensi terkhusus pada kasus gagal ginjal kronis di era modern ini
di tengah meningkatnya prevalensi Penyakit Ginjal Kronis (PGK) di Indonesia.

Pada forum ini, Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular, mengambil peran semakin spesifik pada kasus ini, khususnya untuk kasus penyempitan arteri perifer, akses vascular untuk pasien dyalisis seperti AV Fistula atau AV Graf

Selain itu seminar juga untuk melakukan evaluasi intens mengenai penyempitan akes vascular lain akibat gagal ginjal .

Pada seminar yang dihadiri pelaku medis baik dari rumah sakit, spesialis dan seluruh tenaga kerja (nakes ini membahas tentang perkembangan treatment Hemodialisa, sehingga bisa menyelamatkan lebih banyak pasien ke depannya.

BACA JUGA :  1680 Warga Hadiri Perayaan Natal Oikumene 2023 di Kecamatan Medan Tuntungan

“Meski cuci darah masih menjadi solusi terbaik hingga saat ini, metode rawatan sekarang sudah berkembang dengan pesat dan lebih baik, serta memperhatikan standar medis” kata Direktur Columbia Asia Hospital Medan, Dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H., FISQua.

Disebutkan, semua standar layanan cuci darah sudah menggunakan siklus “single use” untuk instrument dyalisis yang berfungsi meningkatkan kualitas, mengurangi resiko infeksi karena pasien cuci darah harus melakukan rawatan ini selama sisa hidupnya.

Dalam perhelatan ilmiah  para spesialis  bersatu untuk melakukan multidisiplin rawatan antara dokter umum selaku petugas tata laksana, dengan pemantauan intervensi dari Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular

Selain itu juga dengan spesialis Nefrologi yang menghasilkan clinical outcome yang 20% lebih baik daripada cara konvensional. Praktek multidispilin ini sudah diimplementasikan di Columbia Asia Hospital Medan.

Tugas besarnya adalah kesadaran pasien HD, mengingat penyakit ini tidak menimbulkan symptom yang signifikan atau langsung.

BACA JUGA :  Polres Sergai Lidik Truk Laka Maut Tewaskan 2 Pelajar

Kesadaran ini yang harus terus dipupuk dan dikembangkan menjadi kebiasaan sehingga “sadar kesehatan” terbentuk dengan baik kedepannya.

Masyarakat diharapkan untuk lebih sadar dalam pemeriksaan yang bertujuan mencegah daripada mengobati.

“Sedangkan dari sisi Columbia Asia Hospital Medan, kami akan rutin melakukan temu ilmiah dan juga memfasilitasi paket-paket pemeriksaan yang terjangkau sehingga bisa menekan laju resiko di Medan,” pungkas Beni.

Pada forum ilmiah itu sejumlah narasumber memaparkan perkembangan penanganan keluhan gagal ginjal, antara lain, Mohammad Nazril Rizki M. Ked(Surg), SpB, Subsp. BVE(K), dr Muhammad Khadafi, Sp.B, Subsp.BVE (K) dan  MR. Alphons Festus  sebagai Country Director Boston Scientific Indonesia.

Salah seorang narasumber dr. Muhammad Khadafi, Sp.B, Subsp.BVE (K) menyebutkan, bagi pasien yang cuci darah karena gagal ginjal perlu akses.

Dengan perkembangan teknologi terkini hal itu bisa dilakukan secara operasi terbuka maupun endovaskular.

Menurutnya, bagi pasien gagal ginjal mungkin terapi paling baik itu adalah transplantasi.

BACA JUGA :  Hingga April 2025, UHC Langkat 95,70 Persen

Tapi transplantasi itu, katanya bukan sesuatu hal yang gampang dikerjakan karena itu diperlukan terapi pengganti  ginjal, yaitu cuci darah.

Khadafi mengatakan, penggunaan Inovasi dan segala macamnya itu bukan supaya pasien lepas dari gagal ginjal tapi menjaga akses cuci darahnya untuk tetap hidup biar bisa cuci darah lebih lancar dan lebih berkualitas.

Untuk menghindari penyakit gagal ginjal, Khadafi  mengimbau agar masyarakat membiasakan minum air putih paling tidak 2 liter per hari dan hindari minuman-minuman yang manis dalam kemasan atau ultra proses food

Sementara itu, Country Director Boston Scientific Indonesia, Mr. Alphons Festus, memperkenalkan inovasi teknologi medis yang mendukung tindakan intervensi minimal invasif pada pasien gagal ginjal.

Dalam seminar tersebut juga diisi dengan tanya jawab dengan para peserta dan diakhiri dengan  pemberian cinderamata kepada para nasumber. ( st)