Harga Emas Terus Cetak Rekor Tapi Masyarakat Tetap Antri Beli, Pertanda Apa?

Medan. Harga emas dunia pada perdagangan hari ini mencatatkan rekor tertinggi baru di level $3.273 per ons troy. Umumnya saat harga emas naik, atau mencatatkan rekor tertingginya seperti saat ini. Masyarakat justru mengkuatirkan adanya potensi koreksi. Namun belakangan yang terjadi adalah antrian belanja emas masyarakat di banyak butik atau toko emas.

Masyarakat antri membeli emas batangan, disaat harga emas justru berada di sekitar 2 juta per gram. Antusiasnya tidak memudar dan bahkan cenderung naik setelah gejolak perang dagang yang terjadi dalam dua pekan terakhir.

BACA JUGA :  NextDev ke-9 Ciptakan Dampak Sosial Berkelanjutan dalam Implementasikan Prinsip ESG

“Fenomena ini terjadi bukan karena kenaikan harga emas sepenuhnya, yang mendorong masyarakat memborong emas. Persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang memburuk juga menjadi pemicunya,” jelas Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin, Rabu (16/4/2025).

Terlebih saat AS memberlakukan kebijakan tarif resiprokal meskipun belakangan ditangguhkan. Kebijakan tersebut membuat persepsi masyarakat terhadap perekonomian dunia memburuk. Tidak ada yang menang saat perang dagang itu terjadi. Bahkan perang tersebut justru membuka peluang banyak negara di dunia masuk dalam jurang resesi atau mengalami perlambatan serius.

BACA JUGA :  Jasa Raharja Sumut Dukung Samsat Hadirkan Pelayanan SIM Keliling di UINSU

“Dan parahnya, dua negara lokomotif penggerak ekonomi dunia yakni AS dan China terlibat dalam konfrontasi yang belum berkesudahan. Aksi saling serang terus terjadi hingga saat ini. Perang dagang tersebut memicu terjadinya pelemahan mata uang dunia termasuk Rupiah, membenamkan kinerja pasar saham, hingga memicu terjadinya aksi jual obligasi. Singkat kata perang dagang tersebut membuat banyak instrumen keuangan mengalami kerugian,” katanya.

Belum lagi tekanan harga di sektor properti, dimana belakangan marak penjualan properti. Juga terlihat dari menurunnya sewa properti untuk kebutuhan bisnis ataupun kantoran, yang terpampang jelas di pusat perbelanjaan atau gedung komersil lainnya. Akumulasi sentimen itulah yang membuat masyarakat berbondong-bondong membeli emas, karena terbatasnya instrumen investasi yang menguntungkan dan likuid serta beresiko rendah.

BACA JUGA :  Rayakan 56 Tahun di Indonesia, Sharp Lovers Day GIGA Fest 2026 Hadirkan 56 Hadiah Spektakuler

Menurutnya, emas menjadi pilihan karena sifatnya likuid, harga yang cenderung stabil dan menjadi aset lindung nilai. Terlebih perang dagang yang kian memanas turut membuka peluang terjadinya kenaikan laju tekanan inflasi. Ekspektasi memburuknya inflasi dan kondisi ekonomi (PDB) menjadi gabungan sentimen yang pas untuk membeli emas.

(mdc)